- Written by
Sobatsiar
- Posted 8 October, 2009 at 4:35 AM
Aku pijakan kakiku di atas pulau Sumatra bagian barat ketika pesawatku mendarat di airport, Tabing, Sumatra Barat. Berangkat dari benua Amerika utara dengan rombongan para tim medis yang siap menggapai korban-korban yang mulai nampak bergelimpangan dimana-mana. Jauh sebelum pesawat NGO terbesar di Perancis ini mendarat di kota Padang, nampak degup hatiku semakin tak menentu. Nampak dari atas pesawat kota itu bagaikan kota mati yang baru dimusnahkan oleh ribuan bom atom yang dijatuhkan. Semua keadaan nampak tak seperti sebuah kota hunian. Hanya tiga kata yang bisa aku ucapkan dalam hati tentang kota ini. Merata Dengan Tanah…… Medicine Sans Frontier, sebuah NGO yang bermarkas di Perancis ini, adalah tempat sandaranku saat ini dan juga yang membawaku kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun hidup di benua Amerika demi segenggam ilmu yang bisa kubawa pulang ke tanah air. Kini aku kembali, walau hanya untuk sebuah tugas kerja, dengan hanya sedikit ilmu di otakku. Berbekalkan sedikit pengetahuan tentang psikologi aku kini berada di tengah-tengah ratusan mayat yang bergelimpangan. Ratusan anak-anak orang tua, wanita-wanita nampak begitu trauma dan linglung. Wajah mereka penuh iba. Penuh penderitaan. Bahkan janin-janin yang sedang merangkul manis di dalam rahim ikut terancam akibat patahan lempengan bumi di dasar laut dengan kedalaman 87 km yang mengakibatkan gempa dengan kekuatan 7,6 SR. Jeritan-jeritan manusia yang tertimbun reruntuhan, kini masuk dan menggetarkan seluruh gendang telingaku.
“Awwwwww…………..” kakiku terhantuk dan sesuatu menghalangi gerak langkahku. Kulihat sepasang kaki menjulur sambil kuangkat sedikit bola mataku merunut dari ujung kaki tersebut hingga sampai pada tubuh seorang ibu yang sedang memeluk anaknya. Tapi kedua nyawanya kini telah meregang akibat tertimpa bangunan-bagunan rumah yang hancur.
Read the rest of this entry »